Sebelum Kau Memutuskan Tuk Menikah: Pembagian Tugas Domestik Rumah Tangga #7
Seperti yang tertera di judul, kali ini aku akan membahas tentang pentingnya merencanakan pembagian tugas pekerjaan mengurus rumah tangga. Sebagian besar kepercayaan di masyarakat kita menganggap bahwa pekerjaan domestik atau pekerjaan rumah tangga adalah kodrat dan kewajiban seorang istri. Pernyataan seperti itu tentu mendapatkan pro dan kontra. Bagi mereka yang memegang teguh keyakinan bahwa seorang istri tugasnya hanya dapur, sumur, kasur, maka akan menerima begitu saja bahwa pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban istri dan bekerja mencari nafkah adalah kewajiban suami. Padahal dalam suatu rumah tangga perlu adanya keseimbangan yang baik dan adil.
Aku tidak menepis kenyataan bahwa tugas suami dalam menjemput rezeki bisa saja sangat melelahkan, menguras waktu, energi, dan tenaga, tetapi hal itu tidak menjadi pembenaran bahwa seorang suami tidak memiliki kewajiban untuk ikut mengurus pekerjaan domestik. Suami yang baik dan bertanggung jawab adalah dia yang paham bahwa mengurus rumah tangga adalah tugas bersama. Perlu adanya kerja sama yang adil dan saling. Apalagi bagi pasangan yang sama-sama bekerja, tentu pekerjaan rumah pun harus bisa direncanakan dengan baik.
Mari kita membuat simulasi. Menurutku, kerja sama yang adil dan saling dalam mengurus pekerjaan rumah tangga adalah seperti berikut, sebagai contoh dan perumpamaan. Jika istri memasak maka suami mencuci piring. Jika istri menyapu maka suami mengepel lantai. Jika istri mencuci baju, maka suami yang menjemur. Jika istri yang menyetrika baju, maka suami yang melipat dan membereskan. Jika istri membereskan perabotan rumah, maka suami membersamai, ikut membereskan perabotan rumah. Pekerjaannya bisa dalam bentuk apa saja. Intinya perlu ada kerja sama dan saling dalam mengurus rumah tangga. Suami dan istri harus terlibat di dalamnya, sehingga tercipta keharmonisan dan bukankah semuanya terasa lebih ringan jika dilakukan bersama?
Sesekali mungkin suami merasa lelah sehingga belum bisa terlibat sepenuhnya. Namun, setidaknya berikan apresiasi dan hargai usaha istri, bisa dalam bentuk apapun. Beri pujian secara verbal. Memberi afeksi penuh kasih sayang, dan masih banyak cara lainnya. Juga bagi para istri, ingat bahwa terkadang hasil pekerjaan laki-laki tidak selalu sesuai dengan harapan, maka jangan langsung mengambil alih atau bahkan memaki mereka, cukup berikan pujian dan kemudian arahkan sesuai dengan yang seharusnya.
Banyak sekali kasus dalam rumah tangga di mana suami membebankan semua pekerjaan rumah kepada istrinya dan berpikir bahwa pekerjaan rutinitas domestik itu tidak melelahkan. Justru pekerjaan rumah yang kelihatannya begitu-begitu saja jika dijabarkan satu per satu sangatlah banyak dan sama melelahkannya seperti pekerjaan lainnya. Dipikir baju dalam lemari itu dengan sendirinya bersih dan masuk dengan rapi di dalam lemari? Dipikir lantai bersih itu hanya sapu saja yang bergerak sendiri tanpa tangan dan kaki istrimu yang juga ikut bergerak?
Berhentilah memperlakukan istri dengan anggapan tugasnya mudah dan hanya mengurus dapur, sumur, kasur saja. Itu pemikiran kolot dan perlu diubah.
Jadi, mari kita didik anak laki-laki kita, adik laki-laki kita, kakak laki-laki kita, orang terdekat kita semuanya, bahwa pekerjaan rumah itu basic bertahan hidup yang perlu dikuasai dan dilakukan setiap orang, bukan pekerjaan berdasarkan gender.
Istrimu adalah pasanganmu. Dia berada di sisimu. Maka bersamailah sebagaimana mestinya. Kerja sama dan saling menghargai.
Kesimpulannya, sebelum kamu memutuskan untuk menikah, maka perlu dipikirkan tentang pembagian tugas pekerjaan rumah tangga ini. Diskusikan dengan calon pasanganmu bagaimana perencanaannya. Setiap rumah tangga mungkin akan memiliki aturan yang berbeda tetapi pastikan bahwa aturannya baik untuk kalian berdua jangan sampai memberatkan salah satunya saja.
Semoga bermanfaat.



Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful