Sebelum Kau Memutuskan Tuk Menikah: Diskusi Tentang Finansial Rumah Tangga #5



Tempo hari kita sudah membahas tentang pentingnya merencanakan tempat tinggal setelah menikah sebelum kita memutuskan untuk menikah. Hari ini aku akan membahas tentang finansial dan kebutuhan materil dalam berumah tangga. Dalam kebiasaan di lingkungan kita, sang suami bertugas mencari nafkah atau bekerja, dan sang istri mengurus rumah dan anak-anak. Jadi, biasanya suami akan memberikan sekian besar uang untuk kebutuhan istri dan anak-anaknya. Namun, hal ini kadang menjadi masalah besar setelah menikah ketika nafkah materil yang diberikan tidak sesuai dengan ekspektasi.

Penting sekali untuk mendiskusikan hal ini dan merencanakan dengan rinci bagaimana cara mengelola finansial keluarga, baik jika kalian sama-sama bekerja atau pun hanya salah satu. Seringkali kutemukan para istri yang mengeluh dengan uang bulanan yang diberikan sang suami, tentu ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Bagi kalian yang sama-sama bekerja atau double income maka kalian bisa dengan mudah melakukan pembagian dan kerja sama dalam mengatur pengeluaran keluarga, tetapi hati-hati para suami meskipun istrimu bekerja, istrimu tetap harus mendapatkan nafkahnya dengan baik. Bagi kalian yang hanya salah satunya yang berpenghasilan maka di sinilah tantangannya, harus membuat rincian yang jelas bagaimana pemasukan dan pengeluaran dalam rumah tangga. 


Aku pun sudah menikah dan aku dapat pastikan bahwa kebutuhan di zaman sekarang sangatlah banyak dan serba tidak murah. Mari kita buat daftar kebutuhan rumah tangga secara garis besar.

  1. Kebutuhan primer, kebutuhan yang sudah pasti kita perlukan, misalnya makan sehari-hari, pulsa listrik, gas, uang keamanan, uang kebersihan, iuran di masyarakat, air, kebutuhan body care, sabun, pakaian, biaya pendidikan anak, dan lain sebagainya. 

  2. Kebutuhan sekunder, kebutuhan yang diperlukan tetapi masih bisa dicari alternatif lain jika memang tidak bisa terpenuhi, misalnya seperti jajan, belanja bulanan, beli pakaian, dan lain sebagainya.

  3. Kebutuhan tersier, kebutuhan yang sebenarnya penting tetapi masih bisa ‘diabaikan’, misalnya seperti liburan keluarga, membeli barang yang diinginkan, nonton bioskop, dan lain sebagainya.


Nah, ketiga hal di atas adalah berdasarkan pengalamanku, ya, bukan berdasarkan penelitian ilmiah. Namun, aku yakin sebagian besar pasangan yang sudah menikah pasti mengamini. Jadi, teman-teman, berumah tangga itu bukan hanya tentang hidup bersama berdua tanpa memikirkan berbagai hal lainnya. Rumah yang kita bangun tentulah harus kita isi, agar senantiasa hidup dan menjadi tempat yang membahagiakan. 


Kebutuhan materil ini harus direncanakan dan didiskusikan dengan sebaik-baiknya bersama calon pasangan hidup kita karena pengaruhnya sangat besar sekali. Bukankah sering kita dengar berapa banyak pasangan yang bertengkar karena masalah ekonomi? Masalah finansial yang tidak stabil? Kebutuhan primer yang tidak terpenuhi?


Jadi, untuk laki-laki, wajib hukumnya bagimu untuk memberikan nafkah yang layak kepada istri dan anak-anakmu. Hitunglah seberapa besar dan banyaknya kebutuhan yang harus tercukupi dalam berumah tangga. Jika masih belum mampu, lebih baik jangan dulu menikah, apalagi memutuskan untuk mempunyai anak. Membesarkan dan mendidik anak itu memerlukan biaya yang sangat besar serta tanggung jawab yang besar pula.


Untuk para perempuan, baiknya kita pun harus berusaha menjadi perempuan yang independen dan berpenghasilan, bukan untuk menyaingi apalagi merasa lebih tinggi, tapi kita harus paham bahwa menjalankan kehidupan rumah tangga itu tidak cukup hanya dengan cinta. Saranku, jangan mau menikah dengan laki-laki yang tidak memiliki penghasilan, tidak bekerja, pemalas, dan tidak memiliki jiwa kepemimpinan, atau kehidupan rumah tanggamu akan sangat menyedihkan. Finansial keluarga itu ibarat bahan bakar dan mesin di kapal rumah tanggamu, tanpa itu semua kalian akan bersusah-susah mendayung di lautan lepas tanpa arah.


Satu hal lagi, aku pernah membaca satu postingan di media sosial yang menceritakan tentang seorang istri yang bisa memanfaatkan uang sebesar Rp5000,- dan mampu memberikan makanan untuk seluruh anggota keluarga kecilnya dan diberi caption “Uang 5000 di tangan istri yang tepat”. Hey, suami yang baik tidak akan membiarkan istrinya menderita dan hanya diberikan uang Rp5000,- per hari!

Terlepas dari kekurangan atau tidak keadaan keluarga itu, tetapi yang ingin aku soroti adalah bermunculannya para suami yang adu nasib dan menceritakan seberapa boros istri mereka. Menurutku, postingan itu cukup menggelikan, tanpa tahu di mana tempat mereka tinggal, apa yang mereka makan, apa yang mereka beli, lalu dengan tanpa pikir panjang para suami menyalahkan istrinya yang katanya boros. Maaf, ya, uang Rp5000,- kalau kita hidup di kampung pun hanya cukup untuk dua telur saja, bahkan di sebagian warung satu telur harganya Rp3000,-. Mohon jangan menormalisasi bentuk penindasan terselubung seperti itu, sangat tidak memanusiakan istri. Jangan mudah terpengaruh dengan kisah-kisah di media sosial yang belum tentu kebenarannya dan yang terpenting adalah bahwa setiap rumah tangga pasti memiliki prioritas yang berbeda-beda.


Sekian.



Komentar

Postingan Populer