Shakuntala Devi: Sisi Lain dari The Human Computer

 Adakah di antara teman-teman yang suka dengan matematika?

Aku pribadi sih waktu SMP dan SMA pernah sangat menyukai matematika dan fisika. Pernah ikutan LCC Matematika dan memilih Fisika sebagai mata pelajaran jurusan pilihan saat Ujian Nasional dulu. 


Oke, jika ada yang suka dengan Matematika, kali ini aku akan mengulas salah satu film India yang terinspirasi dari kisah hidup seorang perempuan yang pernah mendapat julukan Human Computer. Film ini berjudul Shakuntala Devi yang diperankan oleh Vidya Balan sebagai title role. Pernah ada film serupa yang dirilis di Inggris yang berjudul The Man Who Knew Infinity yang juga mengangkat kisah seorang pria yang pintar di bidang matematika bernama Ramanujan. 


Jadi hari ini aku ingin menjabarkan hal-hal apa saja yang kuperhatikan dari film ini. Seperti biasa dari setiap film yang kutonton harus ada pembelajaran kehidupan yang dipetik.

Sinopsis Film

Film ini diawali dengan seorang scene seorang perempuan bernama Anupama Banerjee yang akan mengajukan gugatan kepada ibunya sendiri, Shauntala Devi. Alur film ini maju mundur atau campuran. Kemudian scene akan berpindah pada tahun 1930-an di masa kecil Shakuntala Devi. Ia terlahir dari keluarga miskin, memiliki seorang kakak perempuan yang lumpuh dan memiliki penyakit, ibunya yang selalu mengalah, dan ayahnya yang tidak memikirkan kebahagiaan anak-anak dan istrinya. Kehebatan Shakuntala yang bisa menjawab soal-soal matematika dengan cepat dan benar membuat banyak orang takjub. Ia sering melakukan pertunjukan di sekolah-sekolah dan acara-acara. Namun, ayahnya hanya peduli pada berapa uang yang dihasilkan Shaku, tanpa memikirkan untuk menyekolahkannya ke sekolah formal. Hingga masa remaja, ia dengan penuh emosional menembak pacarnya yang ketahuan akan menikah dengan orang lain. Akibat itu, Shakuntala pergi ke London untuk mencari pekerjaan. 


Awalnya banyak yang meremehkan kemampuan Shakuntala, tetapi setelah beberapa pertunjukkannya, akhirnya ada seorang pria Spanyol yang tertarik untuk mengembangkan kemampuan Shakuntala. Dia diundang di acara TV dan Royal Mathematical Society di London hingga orang-orang mengenalnya dengan sebutan The Human Computer. Ia pun berkeliling dunia untuk melakukan pertunjukan kehebatannya. Sampai ia bertemu seorang pria bernama Paritosh Banerjee, mereka jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Anupama Banerjee. Setelah cukup lama ia vakum dari karirnya. Shakuntala merasa dirinya tidak berguna, bosan, dan ingin seperti dulu lagi, Paritosh tidak menghalangi keinginan Shakuntala. Ia bahkan rela mengurus Anupama selama Shakuntala pergi ke luar negeri. Namun beberapa hal antara mereka tidak berjalan dengan baik, sehingga mereka memutuskan untuk berpisah.

Kita akan ditunjukkan kisah hidup anaknya, Anupama yang menikah dengan pria bernama Ajay. Anu tidak ingin memiliki anak karena merasa masa kecilnya penuh dengan ketidakbahagiaan. Ia tertarik dalam bisnis properti, dan Anu sangat membenci matematika. Mulailah scene mundur lagi pada kehidupan Anu yang harus berpindah-pindah dari tiap hotel ke hotel yang lainnya sebab pekerjaan ibunya. Intinya sepanjang film kita akan disuguhkan dengan perjalanan Shakuntala dalam karirnya, serta anaknya yaitu Anupama yang membenci ibunya. Banyak detail-detail kecil yang sangat relate dengan kehidupan.

Oke mari kita lanjut pada pembahasan berikutnya tentang ulasanku untuk film ini.

Pembelajaran Kehidupan dari Film Shakuntala Devi

  1. Belajar dari orangtuanya Shakuntala. Ayahnya tidak peduli dengan keadaan anaknya yang sakit dan tidak berusaha untuk memperjuangkan kesembuhan untuk anaknya. Ayahnya bahkan tidak menyekolahkan anak-anaknya, dan malah memanfaatkan kemampuan Shakuntala yang bisa menghasilkan uang bagi dirinya. Ibunya, di sisi lain, seorang wanita yang tidak bisa stand for herself. Dia tidak bisa melawan suaminya untuk agar peduli pada mereka, bahkan ia tidak mampu berbicara untuk dirinya sendiri. Memang film ini berlatar tahun 1950-an, di mana perempuan masih sangat sering terdiskriminasi. Hal yang bisa dipelajari adalah bahwa kita harus berani berbicara/ speak up untuk diri sendiri ketika mengalami ketidakadilan, memang tidak mudah, tetapi jangan terus menerus membiarkan diri kita direndahkan dan disepelekan. 
  2. Menjadi orangtua itu tidak mudah. Menjadi orangtua adalah tanggung jawab yang besar dan berat. Makanya, meskipun setiap pasangan bisa menjadi orangtua, tetapi tidak semuanya mampu benar-benar menjadi orangtua yang bertanggung jawab dan penuh kasih. Ayah Shakuntala yang hanya peduli pada apa yang bisa anaknya hasilkan dan berikan adalah gambaran kebanyakan orangtua di masa kini, yang menjadikan anak sebagai investasi yang harus bisa membalas jasa orangtua. Padahal anak memang sudah seharusnya diberikan penghidupan yang layak karena tidak ada anak yang ingin lahir dari orangtua yang tidak mampu memenuhi tanggung jawabnya. Jadi, berhentilah menormalisasi bahwa anak adalah investasi dan ATM berjalan. Cukup didik anak dengan sebaik-baiknya maka nanti pun anak akan 'autopilot' untuk mengasihi dan menyayangi anaknya.
  3. Ada scene di mana Shakuntala tidak mau menemui orangtuanya untuk meminta restu sebelum menikah. Shaku begitu emosional dan penuh kebencian. Ini merupakan trauma masa lalu Shakuntala yang merasakan keegoisan ayahnya dahulu. Memang mengobati trauma masa kecil itu tidak mudah, makanya menjadi orangtua (kembali lagi kusebutkan) adalah sesuatu yang berat. Namun, sikap Shakuntala yang menyimpan dendam pun tidak baik untuk kesehatan mentalnya dan bahkan bisa berpengaruh pada orang di sekitarnya.
  4. Anupama Banerjee menjalani dan melewati masa kecilnya yang tidak kekurangan sedikitpun harta, tapi dia menjadi begitu membenci Shakuntala, karena Anupama seakan muak dengan kecintaan Shakuntala pada matematika dan lebih mementingkan pertunjukkannya daripada menjadi ibu yang seutuhnya yang Anupama harapkan. Nah, ini juga menjadi pelampiasan Shakuntala karena dulu ia hidup dalam kemiskinan dan ia tidak mau Anupama merasakan hal yang sama, hanya saja ternyata yang diinginkan Anupama bukanlah itu, tetapi kehadiran Shakuntala sebagaimana mestinya seorang ibu. Maka dari itu seseorang yang belum selesai dengan dirinya cenderung akan berusaha menjadi sempurna tetapi ternyata kesempurnaan itu hanyalah semu dan bisa jadi terlalu berlebihan. 
  5. Aku kurang suka dengan keputusan Shakuntala menulis buku yang berkaitan dengan LGBT serta menyebutkan bahwa mantan suaminya, Paritosh, adalah seorang gay, yang mana itu adalah kebohongan. Bahkan Anupama membenci hal ini saat Shakuntala sedang launching bukunya itu. Aku juga pasti marah sih ketika ayah kita sendiri 'difitnah' oleh ibu sendiri, walau dengan maksud 'menambah cerita' agar timbul simpati, tapi gak begitu juga lah.
  6. Hubungan Shakuntala dan Paritosh pun tidak berlangsung lama karena seperti yang Paritosh katakan bahwa Shakuntala ini bagaikan badai, mood-nya naik turun, dan untuk menghadapi badai adalah dengan membiarkannya, bukan melawan atau menanggapi. Intinya sih memang pernikahan itu tidak hanya tentang saling mencintai, tetapi juga tentang saling mengerti dan memahami karakter pasangan. Bahkan hampir sebagian besar isi rumah tangga itu adalah kompromi dan komitmen untuk saling menyisihkan ego masing-masing.


Sebenarnya masih banyak hal yang bisa dipelajari dari film ini tapi aku rekomendasikan untuk langsung nonton aja langsung filmnya, biar temna-teman bisa langsung menilai keseluruhan isi filmnya. Over all, aku suka film ini, di IMdB rating-nya pun bagus. Aku pribadi menilai film ini layak mendapat rate 7,5/10. Apalagi akting Vidya Balan yang sudah tidak perlu diragukan lagi. Banyak film-filmnya yang bagus dan sukses.

Oke, jadi sekian dulu ulasanku untuk film ini. Recommended. 

Journaling Kit Link No. 119

Komentar

Postingan Populer