Pengalaman Persalinan C-Section pada Kehamilan Pertama
Kehamilan menjadi salah satu hal yang diidam-idamkan kebanyakan orang, termasuk aku dan suami. Aku menikah pada tanggal 7 Februari 2021 dan alhamdulillah Allah menakdirkanku hamil selang dua bulan setelah menikah. Aku menjalani minggu-minggu kehamilan dengan penuh semangat.
Ku-download aplikasi pemantau kehamilan sehingga aku bisa tahu bagaimana perkembangan dan pertumbuhan janin di perutku. Aku juga lebih mudah mengakses informasi yang bermanfaat untuk kehamilan serta bersiap menjelang persalinan.
Ini adalah kehamilan pertamaku, tapi alhamdulillah aku sama sekali tidak merasakan mual muntah yang parah seperti kebanyakan wanita hamil pada umumnya. Mual sih memang ada tapi tidak parah dan itu pun hanya disebabkan hal tertentu saja. Aku bahkan lebih banyak makan sehingga berat badanku naik sampai 16 kilogram yang semula 56 kilogram menjadi 72 kilogram. Melebihi batas normal yang dianjurkan yaitu 12,5 kilogram.
Aku rutin memeriksakan kehamilan setiap sebulan sekali sampai usia kandungan 8 bulan, menginjak 9 bulan periksa setiap dua minggu sekali. Setiap USG semuanya baik-baik saja, janinku tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya. Hanya saja dokter memang sering mengatakan bahwa janinku terlihat lebih kecil dan akupun diberikan vitamin tentu saja.
Nah, mungkin kesalahanku dimulai dari sini, aku memikirkan ada dua faktor utama yang sangat berpengaruh. Pertama, aku sering pindah-pindah tempat cek kandungan yang artinya beda-beda dokter. Kedua, aku tidak rutin mengonsumsi vitamin, alasannya karena malas dan akhirnya sering lupa.
Long story short, memasuki usia kehamilan 9 bulan aku tidak pernah merasakan konstraksi palsu sekalipun. Pas di minggu ke-40 masih belum merasakan konstraksi, jadilah aku USG ke dokter yang berbeda dari sebelumnya. Aku diberikan edukasi bahwa seharusnya aku fokus di satu dokter kandungan saja agar benar-benar terpantau.
Hasil USG menunjukkan bbj (berat badan janin) hanya 1,8 kg. Tentu saja ini sangat berisiko jika tetap dibiarkan. Saat itu juga dokter memberikan surat rujukan ke salah satu RS Swasta di kotaku.
Besoknya aku ditemani suami, mamaku, dan dua orang kakakku ke RS. Aku langsung dibawa ke IGD, diundur, dan diperiksa beberapa hal sambil menunggu dimasukkan ke ruang inap.
Seorang bidan memeriksa pembukaan dan mengatakan bahwa mungkin dalam waktu dua jam akan ada konstraksi, ditunggu dua-tiga jan konstraksi tidak kunjung kurasakan. Indikasi ke C-Section alias caesar sepertinya sudah pasti.
Aku diobservasi, setiap 3 jam sekali diperiksa tekanan darah dan oksigen dalam darah. Aku pun berusaha menambah bbj dengan cara meminum susu, makan roti, makanan manis, dan es krim, berharap bbj-ku ada kenaikan.
Besoknya, hari Rabu pagi, USG menunjukkan bbj ada di angka 2,2 kg. Alhamdulillah setidaknya tidak se-ekstrim sebelumnya kata dokterku. Namun, dokter berkata bahwa induksi sudah tidak memungkinkan dan lahiran secara normal sebaiknya tidak dipaksakan. Jadi, untuk berusaha menyelamatkan dua-duanya operasi caesar adalah jalannya.
Subhanallah, ini memang sudah menjadi jalan takdirku untuk melahirkan tidak secara normal. Tak apa, yang penting anakku dan aku selamat.
Jadwal SC nanti malam jam 19.30, aku diharuskan puasa 8 jam, dan dua jam sebelum operasi aku diberikan teh manis untuk cadangan energi. Berbagai obat disuntikkan ke infusan untuk mempersiapkan proses operasi.
Tiba waktunya operasi, aku hanya bisa berdoa dan meminta keluargaku mendoakan aku dan bayiku. Memasuki ruang operasi sungguh sangat mencekam. Dingin.
Sebelum dimulai proses operasi, semua yang ada di ruangan berdoa terlebih dahulu. Anestesi mulai disuntikkan di punggungku. Di sekelilingku, asa dokter kandungan, dokter anak, dokter anestesi, bidan, dan para perawat lainnya.
Selama proses, aku malah diajak ngobrol dan membicarakan banyak hal. Belum sepuluh menit berlalu, dokter kandungan segera menunjukkan bayi mungilku yang menangis kencang. Seketika aku langsung menetesjan air mata bahagia seakan semua kesedihan dan ketakutan hilang begitu saja sesaat kudengar suara tangisnya dan kulihat wajahnya. Anakku laki-laki lahir pada pukul 19.57 tanggal 12 Januari 2022. Alhamdulillah semuanya sehat, lengkap tanpa kekurangan suatu apapun. Perawat segera membawa bayiku ke ruang khusus bayi. Qudarullah, berat bayiku hanya 2065 gram yang artinya bayiku termasuk BBLR atau Berat Badan Lahir Rendah. Normalnya adalah 2,5 kg.
Dua hari masa pemulihan di RS karena menggunakan metode ERACS (Enhance Recovery After Cesarean Surgery) jadi aku lebih cepat pulih meskipun masih ada rasa linu di bekas jahitan operasi. Sedangkan bayiku harus dirawat selama delapan hari karena BBLR, bilirubin tinggi, dan meminum banyak cairan ketuban.
Aju juga terkena baby blues, keadaan di mana perempuan pasca melahirkan mengalami kesedihan yang mendalam dengan ciri-ciri menangis tanpa sebab, gelisah, khawatir, hingga pada tahap esktrem berkeinginan menyakiti bayinya dan diri sendiri.
Meskipun begitu aku masih bisa menangani Baby blues-ku berkat bantuan dan support dari orang-orang sekitar. Alhamdulillah hari ini aku dan bayiku sudah sehat serta dapat beraktivitas seperti biasa.
Ada banyak pembelajaran yang dapat direnungi di antaranya:
- Ketika hamil, usahakan rutin memeriksakan kandungan di satu dokter kandungan sebagai dokter yang memantau kehamilan dari awal sampai akhir.
- Rutin mengonsumsi vitamin dan olahraga ringan di trimester akhir.
- Memerhatikan segala perbuatan, ucapan, tindakan, dan prasangka.
- Jangan menyepelekan keluhan yang dirasakan.
- Persiapkan segala keperluan baik yang minor maupun mayor, misalnya budget untuk keperluan bayi, dana melahirkan, dan sejenisnya.
- Selalu membaca dan belajar tentang ilmu kehamilan dan parenting.
- Selalu mendukung, membantu, dan membersamai ibu nifas agar terhindar dan dapat mengatasi Baby blues syndrome.
- Selalu bahagia.
Serta masih banyak lagi pembelajaran yang dapat diambil.
Segala doa, usaha, dan ikhtiar telah dilakukan dan pasrahkan semuanya pada Allah swt. yang Mahamenggerakkan segalanya.
Itulah sekelumit pengalaman proses C-Section anak pertamaku. Masih banyak informasi yang belum tersampaikan, biarlah menjadi pembahasannya tersendiri di lain artikel.
Terima kasih banyak saya ucapkan kepada dr. Aditya Fitrandi, Sp.OG., dr. Mustakim, Sp.A., para bidan dan perawat, staff RS Intan Husada Garut, dan semua pihak yang telah memberikan banyak kebaikan keoada penulis. Semoga selalu sehat, bahagia, dilancarkan semua urusannya. Aamiin.
Semoga bermanfaat. Sekian. Terima kasih atas kunjungannya. Stay healthy and happy.



Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful