Barefoot in Baghdad

 

https://www.goodfon.com/wallpaper/violet-book-love-roses-kniga-romantic-rozy-purple-flowers-ts.html


Sudah lama aku tidak posting karena ada satu dan lain hal. Soalnya aku fokuskan dulu untuk menyelesaikan salah satu karya novelku di Wattpad, judulnya From Mecca With Love, sudah selesai. Klik di sini untuk membacanya. Jangan lupa vote dan share. 

Gimana nih kabar new normal di tempat kalian masing-masing? 
Semoga selalu sehat dan tetap produktif. Semangat!

Kali ini aku akan review satu buku yang baru saja kuselesaikan minggu ini. Judulnya Barefoot in Baghdad. Ini fotonya:

Untuk lebih jelasnya, aku lampirkan identitas bukunya:
 
          Judul                : Barefoot in Baghdad
          Penulis             : Manal M. Omar
          Penerjemah      : Istiani Prajoko
          Penerbit            : Qanita PT Mizan Pustaka, Bandung, 2014
          Jumlah Hlm.    : 320 hlm., 20,5 cm

Review

Setiap bab dalam buku ini diberi subjudul, bebarapa di antaranya Bab Satu: Pembukaan; Bab Dua: Perjalanan; Bab Tiga: Menerobos Penghalang; Bab Empat: Memilih Keberpihakan, dan lainnya.
Di awal, penulis akan bercerita terlebih dahulu tentang latar belakang dirinya, alasan ia menjadi relawan untuk menolong para perempuan di Irak yang tengah dalam suasana Perang Irak, serta kehidupan pribadinya.

Manal ini merupakan keturunan Palestina-Amerika yang besar dan tumbuh di Amerika. Sebagai Muslim Amerika tentu menjadi tantang tersendiri baginya hidup di sebuah negara yang sekuler. Ia telah memulai karirnya sejak tahun 1996 sebagai jurnalis di Timur Tengah. 

Dalam memoarnya ini, Manal berfokus pada pengalamannya saat menjadi perwakilan Women for Women International di Irak, khususnya di wilayah Baghdad. Di beberapa bab ia menjelaskan tentang perempuan-perempuan yang pernah ia bantu. Ada banyak macam perempuan yang ia bantu. Kebanyakan adalah mereka yang menjadi korban pernikahan dini. Seperti yang kita ketahui, bahwa pernikahan dini masih terjadi khususnya di kalangan keluarga konservatif. Jadi pernikahan di usia 12 sampai 16 tahun sudah merupakan hal yang biasa. 

Keseluruhan buku ini memang cukup informatif menurutku, meskipun kulihat di Goodreads tidak sedikit yang membenci buku ini, lebih tepatnya tidak setuju dengan statement yang sering Manal utarakan. Alasan mereka membenci buku ini adalah karena Manal berulang kali menunjukkan ketidaksetujuan-nya terhadap sikap Amerika Serikat yang pada saat itu era pemerintahan George H. W. Bush, yang menurut Manal tidak seharusnya mengurusi masalah negara atau bangsa lain. Manal menunjukkan sikap 'tidak suka' kepada militer AS yang berjaga di sana. Padahal warga AS kebanyakan sangat respect dan bangga karena AS dipandang telah 'membantu' Irak. Beberapa warga AS mengecam Manal, karena ia dianggap tidak menghargai prajurit yang mati di Irak.

Tapi untukku pribadi sih, sebenarnya AS juga terkesan mencampuri urusan bangsa lain, bayangkan saja, jarak mereka yang sangat jauh, untuk apa AS capek-capek dan rugi mengeluarkan materil sebegitu banyaknya hanya untuk 'membantu' Irak? 
Dan aku juga cukup bingung, di buku ini, digambarkan bahwa banyak warga Irak yang merasa terbebas dengan adanya bantuan AS. Memang benar, Saddam Hussein itu otoriter, tapi bukan berarti AS dengan mudahnya ikut campur dan mengirim pasukan militernya ke sana. Banyak pihak yang berpendapat bahwa keterlibatan AS di Irak pada saat itu adalah invasi, penjajahan, bahkan disebut sebagai dosa besar AS.

Bagiku sepanjang membaca buku ini, karena aku baca versi terjemahnya, cukup mudah dipahami. Biasanya sering kutemukan buku terjemahan yang hasil terjemahannya tidak mudah dipahami, tapi buku ini justru aku merasa mudah mencernanya saja, tidak monoton, bahkan aku bisa menyelesaikan buku ini hanya dalam beberapa hari saja. 
Aku juga mendapat banyak pembelajaran dari sudut pandang seorang relawan. Kisahnya mengalir namun tidak membosankan. Untuk buku ini aku beri rating 8.0/10. Khususnya aku apresiasi pada penerjemah. Good job! I love this book.
 
Oh, ya, di bagian akhir, Manal menjelaskan bahwa ia menikah dengan rekan kerjanya, bernama Yusuf. 
So, karena ini memoar, bukan novel jadi tidak perlu berharap kisah yang dramatis atau romantis yang gimana-gimana, tapi kuyakin pembaca seakan diajak ikut masuk dalam perjalanan Manal menjadi seorang relawan di Baghdad. 

Silakan barangkali ada yang sudah membacanya, bisa sharing pendapatnya tentang buku tersebut, atau bagi yang belum baca, menurutku tetap masih relevan sampai saat ini untuk dibaca, apalagi jika kalian seorang aktivis atau relawan. 

Maaf untuk ulasan kali ini sederhana saja, karena memang aku lagi refleksi saja, jadi menulis yang ringan-ringan saja dulu.

Have a nice day. Nikmati dan hiduplah untuk hari ini.
See you in the next post. 

Komentar

Postingan Populer