Rekomendasi #5 | Cak Nun: Pemimpin yang "Tuhan"
Akhirnya, buku Pemimpin Yang "Tuhan" telah selesai kubaca. Kali ini aku ingin merekomendasikan buku yang menurutku bagus dan menarik. Yeay! Nambah lagi koleksi buku-buku favoritku.
Identitas Buku
Dok. Pribadi
Judul Buku : Pemimpin yang "Tuhan"
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : Cetakan Ketiga, 2019
Jumlah Halaman : viii+392 hlm.
Harga Buku : 89.000,- (soft cover)
Sekilas tentang Buku Pemimpin yang "Tuhan"
Siapa yang tidak tahu dengan Cak Nun? Seorang yang kritis dan cerdas dalam menyikapi berbagai peristiwa dan persoalan yang terjadi, khususnya di Indonesia tercinta ini.
Buku yang telah diterbitkan sejak tahun 2018 ini, berisi sembilan judul bagian di mana per bagiannya memuat beberapa judul artikel. Tulisan-tulisan dalam buku ini kebanyakan merupakan kegelisahan Cak Nun terhadap kondisi bangsa dan negara yang kaya ini, kaya akan alamnya, manusianya, dan tak lupa segudang kekayaan lainnya yang tentu menggiurkan bagi sebagian "manusianya".
Cak Nun pandai mengungkapkan pemikirannya melalui tulisan dengan bahasa yang ringan, mudah dipahami, namun juga tetap sarat akan makna. Meski tulisannya telah ditulis sejak lama, namun beberapa di antaranya masih sesuai dengan keadaan masa sekarang.
Aku pribadi tidak memerlukan waktu yang lama dalam "melahap" buku ini. Ya! Karena setiap selesai satu judul artikel, pikiran ini memaksa tanganku untuk membuka lembaran berikutnya, dan menyelami hal apa saja yang Cak Nun ingin sampaikan. Sukses membuat pembacanya penasaran untuk mengetahui lebih dalam lagi.
Ada banyak judul artikel yang cukup membekas di pikiranku, salah satunya tulisan yang berjudul Pemimpin Tanpa Rasa Bersalah. Wait, aku tidak berniat menyudutkan siapapun, but yeah tulisan itu begitu menusuk, karena pemimpin yang dimaksud bukan hanya pemimpin dalam urusan pemerintahan saja (meskipun ini yang menjadi fokus utama), melainkan juga pemimpin dalam urusan pribadi.
Selain itu, ada pula artikel berjudul Keberanian untuk Lalim, isinya membuat hati miris dan meringis. Tulisan tersebut merupakan ketakutan Cak Nun dalam melihat perjalanan bangsa Indonesia. Tentang ketakutan menghadapi kenyataan bahwa manusia semakin haus akan kekuasaan, para pemimpin yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan, bangsa yang lupa akan pentingnya mengambil pembelajaran dari masa lalu. Memikirkannya saja sudah menakutkan.
Jadi, yang jelas 100% aku menyukai buku ini, ada banyak pembelajaran dan hikmah yang dapat diambil dari tulisan beliau. Aku berharap bisa membaca buku-buku Cak Nun yang lainnya, karena melihat dari judul-judulnya pun cukup menarik. Aku suka dengan gaya tulisannya. Recommended.
Sebagai penutup, aku mengutip kalimat yang sangat kusukai dari buku ini.
"Negara dan pemerintah tidak menerapkan formula hukuman yang mempermalukan para koruptot di depan rakyat. Bukan karena para koruptor dilindungi dan disembunyikan dari rakyat. Melainkan karena sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa tindakan mempermalukan hanya efektif untuk mereka yang punya rasa malu (Nadjib, 2019: 254)."
Sekian, semoga bermanfaat. Barangkali ingin berdiskusi seputar buku dan apapun, boleh banget hubungi aku di akun media sosial aku, email, ataupun di kolom komentar.
Salam Literasi.
Hidup untuk belajar dan belajar untuk hidup. Setidaknya satu persen setiap harinya.
Referensi:
Nadjib, Emha Ainun. 2019. Pemimpin yang "Tuhan". Yogyakarta: Bentang Pustaka.




Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful