Stress-nya Ibu Rumah Tangga Saat Pandemi Covid-19 Ini
Bismillah... Assalamu'alaikum.
Bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan bahagia. Aamiin.
Alhamdulillaah... Kita sudah sampai di hari ke-12 Ramadhan. Semoga Covid-19 segera berakhir. Aamiin...
Semua orang sedang berada dalam
situasi sulitnya masing-masing saat ini, khususnya seorang ibu rumah tangga
yang penuh dengan tekanan.
Seperti yang kita ketahui kasus akibat wabah Covid-19 semakin meningkat sejak
pertengahan Maret lalu. Dampak yang ditimbulkan pun tak tanggung-tanggung,
hampir semua bidang kehidupan terganggu, salah satunya membuat diri kita harus
memandangi empat dinding yang sama setiap harinya apalagi setelah diberlakukan
PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Semua stress, alasannya beragam, ada yang karena tidak bisa jalan-jalan,
tidak bisa kumpul-kumpul bareng teman, sampai tidak bisa mudik ke kampung
halaman dan mesti menahan rindu yang semakin menggebu. Kita pun tidak bisa
menutup mata, bahwa dari sekian banyak orang yang mengeluh, ada satu orang yang
juga tidak luput dari kejamnya Covid-19 ini. Siapakah ia? Ibu kita. Istri kita.
Bagaimana tidak, wabah Covid-19 ini mengharuskan setiap orang berada di rumahnya
masing-masing demi memutuskan mata rantai penyebaran virus dan itu artinya
tugas seorang ibu rumah tangga (selanjutnya akan ditulis IRT) bertambah berkali-kali
lipat dari biasanya, serta akan berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka.
Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan seorang IRT lebih mudah terkena
stress berat.
Pertama, dampak dari
diberlakukannya School From Home (SFH) atau
belajar dari rumah, membuat para ibu harus mampu menjadi dua peran sekaligus
yaitu seorang ibu dan seorang guru pengganti bagi anaknya untuk urusan sekolah
formal, seperti membimbing mengerjakan tugas, mengawasi pengerjaan soal, sampai
mengajarkan materi pelajaran sesuai dengan arahan yang diberikan. Banyak kita
jumpai berbagai posting-an di media
sosial tentang bagaimana anak-anak mengeluhkan cara mengajar yang dilakukan ibunya,
seperti katanya terlalu galak lah,
tidak sabaran lah, tidak bisa dipahami lah, dan permasalahan lainnya. Begitupun
dengan para ibu yang tidak jarang merasa jengkel karena anaknya susah untuk
diajak belajar. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, karena para ibu
(khususnya yang tidak berprofesi sebagai guru) tidak diajarkan teori mengenai
bagaimana cara memberikan pembelajaran kepada seorang murid dengan memerhatikan
aspek psikologis dan teori-teori sejenisnya. Mereka menjadi seorang guru formal
dadakan berbekal sifat alamiahnya sebagai seorang ibu. Okelah memang benar ibu
adalah guru bagi anak-anaknya, namun dalam hal ini lain lagi urusannya. Tidak
sedikit anak yang justru memanfaatkan SFH ini untuk bermain atau malah bermalas-malasan,
dan pada akhirnya tidak sedikit pula para ibu yang mengerjakan tugas sekolah
anaknya untuk dilaporkan kepada guru si anak. Itu yang terjadi pada kakak
iparku, anyway.
Kedua, istri harus melayani
suaminya yang hampir 24 jam ada di rumah. Para suami ini banyak yang malah
memanfaatkan keberadaannya di rumah untuk dilayani full time oleh istrinya. Yang memprihatinkan adalah masih besarnya
angka kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia, hasil catatan tahunan 2019 dari
Komnas Perempuan saja telah terjadi lebih dari 400 ribu kasus KDRT (Kekerasan
dalam Rumah Tangga), bayangkan betapa beratnya hari-hari yang dijalani ketika
mengharuskan mereka setiap waktu bertemu dengan orang yang hobinya menyiksa,
menyalahkan, meremehkan, bahkan mempermasalahkan hal kecil yang tidak perlu
diselesaikan dengan urat.
Ketiga, seorang IRT melakukan
pekerjaan domestik rumah tangga lebih banyak dari biasanya. Akibat di rumah
saja, tentu anak-anak dan suami menghabiskan sebagian besar waktu mereka hanya
berkegiatan di rumah. Akhirnya seorang IRT mesti bekerja ekstra menyelesaikan
tugas domestik lainnya, seperti beres-beres rumah, mencuci, merapikan
barang-barang, dan lain sebagainya. Syukur-syukur kalau suami dan anaknya mau bantuin, nah kebanyakan kan malah
menganggap bahwa itu sudah menjadi tugas seorang istri. Realitasnya sistem
patriarki masih saja menjadi salah satu problematika kehidupan perempuan
Indonesia.
Keempat, bagi mereka yang
berkarir dan melakukan work from home (WFH)
tentu masa pandemi ini membuat semuanya serba tidak mudah, mereka harus
berurusan dengan tugas pekerjaan yang berbatas waktu, belum lagi mendapat
berbagai gangguan dari lingkungan sekitarnya, misal ketika sedang melakukan WFH
suaminya minta dilayani atau sebagainya, distraksi lainnya yaitu anak-anak yang
rewel entah apa maunya, lebih pusing lagi jika jadwal WFH bertepatan dengan
waktu SFH anaknya yang juga menjadi tugasnya pula untuk membimbing dan mengawasi,
ditambah lagi kewajibannya untuk mengurusi orangtua atau mertuanya di rumah.
Sungguh luar biasa apa yang dialami seorang ibu rumah tangga itu, masih
tega-kah kita mencela masakannya hanya karena kurang garam?
Ia rela menjadi orang pertama yang bangun lebih awal dan tidur paling
akhir, hanya untuk memastikan bahwa keluarganya telah ia perlakukan dengan
sebaik-baiknya.
Terlepas dari itu semua, aku yakin, masih banyak kok suami yang selalu berusaha melakukan yang terbaik juga untuk
keluarganya, karena sejatinya hubungan suami istri itu memang saling mendukung dan
melengkapi satu sama lain sesuai dengan perannya masing-masing. Laki-laki tidak
perlu gengsi bantu mencuci, tak perlu merasa turun derajat hanya karena ikut
memasak.
Tak henti-hentinya, kita berdoa dan berharap agar Covid-19 ini segera berakhir di muka bumi ini, semuanya diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta berbahagialah selalu atas satu hari yang diberikan.
Wassalam...
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar
Be Nice Be Respectful