Rekomendasi #2 | Buku Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini

Dok. Pribadi

Bismillaah... Assalamu'alaikum warahmatullah...
As usual, how are you today?
Semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Aamiin.
K, jadi kali ini saya ingin membagikan review saya terkait buku yang akhir-akhir ini cukup trending, bahkan masuk kategori National Best Seller. Langsung saja, Check it out!

Identitas Buku
Judul Buku             : Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini
Penulis                   : Henry Manampiring
Ilustrator                : Levina Lesmana
Penerbit                  : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit           : Cetakan kesembilan, Agustus 2019
Jumlah Halaman     : xxiv+320 halaman
Harga Buku            : 98.000,-

Review Buku
Oke, Guys, so saya baru saja menyelesaikan (selesai baca maksudnya) buku Filosofi Teras ini yang juga baru saya beli sekitar seminggu yang lalu. Biasanya saya tidak bisa menyelesaikan buku semacam ini dalam waktu yang singkat, karena gaya membaca saya yang membaca beberapa buku dalam satu hari. Tetapi entah mengapa, membaca buku karya Mas Henry Manampiring ini membuat saya penasaran untuk selalu membuka halaman berikutnya ketika selesai di setiap chapter-nya, so karena buku ini sangat menarik bagi saya, maka saya rasa buku ini reccommended sekali untuk siapapun yang ingin mengenal apa itu Filosofi Stoisisme.
So, Guys, menurut bukunya Mas Henry mengapa judulnya Filosofi Teras, karena filosofi ini berasal dari kata stoa dalam bahasa Yunani, yang mana artinya adalah teras. Jadi sejarahnya seperti ini, dahulu sekitar 2300 tahun yang lalu ada seorang pedagang kaya dari Siprus bernama Zeno yang sedang melakukan perjalanan dari Phoenicia ke Peiraeus dengan kapal laut melintasi Laut Mediterania (Manampiring, 2019: 20). Kemalangan memang tidak bisa ditolak, kapal yang membawa banyak barang berharga itu akhirnya karam, yang juga membuat Zeno terdampar di Athena. Singkat cerita, ia luntang lantung di Athena dan menemukan sebuah toko buku, di sana terdapat beberapa buku filsafat yang cukup menarik perhatiannya, dan ia pun bertanya kepada penjaga toko buku di manakah ia bisa belajar filsafat tersebut, kemudian penjaga toko itu menunjuk kepada Crates seorang filsuf aliran Cynic yang kebetulan sedang melintas, Zeno pun pergi mengikuti Crates untuk belajar filsafat darinya.
Zeno belajar filsafat dari berbagai filsuf, hingga akhirnya ia pun mengajar filosofinya sendiri. Ia senang mengajar di sebuah teras berpilar yang kalau dalam bahasa Yunani disebut stoa. Sejak itu para pengikutnya disebut kaum Stoa, dan alirannya disebut Stoisisme. Banyak filsuf yang juga mempelajari aliran ini, seperti Seneca, Epictetus, dan seorang kaisar terkenal bernama Marcus Aurelius.
Secara garis besar, filosofi ini mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap dalam menghadapi berbagai persoalan dalam hidup, misalnya dengan teori dikotomi kendali, di mana dalam hidup ini ada dua hal yang harus kita perhatikan, yaitu sesuatu yang bisa kita kendalikan dan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Contohnya, ketika kita ditugaskan untuk presentasi di depan orang banyak baik di perkuliahan atau pun pekerjaan, kita sering dihadapkan pada perasaan dan pemikiran seperti duh aku bisa gak ya?; duh apa yang akan mereka pikirkan ketika melihatku berbicara; apakah mereka akan menertawakanku?; apakah aku bisa presentasi dengan bagus?; dan hal-hal lainnya yang sebenarnya masih menjadi sesuatu yang belum tentu terjadi. Nah, dengan stoisisme ini kita belajar bahwa dalam hidup ini ada hal yang bisa kita kontrol dan hal yang tidak bisa kita kontrol. Dalam kasus presentasi ini, hal-hal seperti penguasaan kita terhadap materi presentasi, cara kita menyampaikan prsentasi, usaha kita menampilkan yang terbaik, dan sejenisnya adalah sesuatu yang di bawah kontrol kita artinya dapat kita kendalikan entah itu dengan belajar sungguh-sungguh, persiapan yang matang, dan sebagainya. Sedangkan hal-hal seperti pendapat orang terhadap penampilan kita, sikap orang lain dalam mendengarkan kita, dan sejenisnya termasuk pada hal yang tidak dapat kita kendalikan. Stoisisme mengajarkan kita untuk lebih fokus pada sesuatu yang dapat kita kendalikan. Did you get it, Guys? I think you do.
Ok, lanjut lagi, hal ini juga berlaku pada kasus lainnya seperti masa lalu, peristiwa buruk yang sudah terjadi, seperti misalnya kamu kecopetan, daripada kamu merutuki nasibmu yang memang tidak bisa kamu ubah, lebih baik ambil hikmahnya dan fokus pada sesuatu yang bisa kamu kendalikan. Mungkin sebagian orang akan berpikir ah ngomong mah emang mudah dibanding mempraktikannya. Yup, memang benar, karena stoisisme itu praktik dan proses, jadi kamu tidak bisa instan dalam menerapkannya. Stoisisme adalah jalan, cara, proses menuju 'kedamaian dan kebahagiaan hidup'. Saya pribadi pun sedang berusaha untuk menerapkannya dalam keseharian hidup saya. Hehe.
Dalam buku ini juga, pembahasannya cukup banyak dan menyentuh ke berbagai aspek dalam kehidupan, mulai dari keseharian, kehidupan sosial kita, tentang parenting, sampai pada pembahasan tentang kematian. Oh ya, dalam buku ini juga di bagian akhir bab selalu disertai dengan intisari. 
Pokoknya, secara keseluruhan, saya suka dengan isi buku ini, saya rekomendasikan kepada teman-teman semuanya untuk membaca buku ini, in syaa Allah, kalau memang dipraktikkan dengan sungguh-sungguh akan ada perubahan yang terasa tentunya in the good way. Kelebihan lainnya adalah bahasa yang digunakan ringan sehingga memudahkan pembaca untuk mencerna isi buku ini. Kebanyakan dari kita kan berpikir kalau buku filsafat itu bahasanya berat lah, berbelit-belit, dan sebagainya, namun buku ini friendly sekali. Ukuran bukunya juga tidak besar jadi mudah untuk kamu bawa kemana-mana. Namun ada sedikit kekurangan menurut saya, yaitu pengaturan tulisannya yang dibuat left align, kalau menurut saya sih itu cukup mengganggu meskipun tetap enak dibaca, cuma ya berasa gimana aja gitu. Hehe. Soalnya kalau baca buku paling enak yang pengaturan tulisannya itu justify jadi kelihatan rapi gitu. Dan juga ada beberapa penempatan quotes yang cukup mengganggu karena diletakkan di halaman yang memotong kalimat, jadi kadang ketika kita membaca kalimat yang belum selesai kita otomatis membaca quotes dulu yang ada setelahnya, kemudian melanjutkan membaca kalimat lanjutan dari sebelumnya, kadang harus nengok lagi ke belakang, karena lupa, (aahh itu mah kamu-nya aja yang gak fokus) Hahahaa oke oke.
Ok, Guys, sekali lagi, saya rekomendasikan buku ini apalagi buat kita-kita ini yang sering banget berpikiran negatif pada sesuatu yang belum tentu terjadi, untuk kita yang sering galau pada sesuatu yang sudah terjadi, dan untuk kita yang ingin menjalani hidup dengan penuh kebajikan dan kebahagiaan, karena prinsip stoisisme adalah menanamkan karakter dalam diri dengan mengikuti kebajikan-kebajikan (virtues), seperti kebijaksanaan (wisdom), menahan diri (temperance), berani (courage), dan keadilan (justice). 

Jadi kali ini dicukupkan segitu adanya, hehe. Maaf juga kalau review-nya tidak menggambarkan semuanya, karena memang dalam buku ini dari halaman awal sampai akhir penuhhhh sekali dengan pembelajaran-pembelajaran berharga yang kalau dituangkan di posting-an ini pasti tidak akan cukup, jadi jalan untuk mengetahuinya lebih dalam yaa baca bukunya langsung. 
Terima kasih untuk kalian yang sudah berkunjung ke sini, jangan lupa tinggalkan jejak baik itu komentar dan saran yang membangun. Have a nice day. Lots of love.
Alhamdulillaah, wassalamu'alaikum warahmatullah. 

Note: in syaa Allah di lain kesempatan saya akan me-review buku lagi. 

Komentar

Postingan Populer